Senin, 24 Agustus 2015

Penatalaksanaan Ketoasidosis Diabetik

Prinsip terapi Ketoasidosis Diabetik (KAD) adalah dengan mengatasi dehidrasi, hiperglikemia, dan ketidakseimbangan elektrolit, serta mengatasi penyakit penyerta yang ada. Pengawasan ketat, KU jelek masuk HCU/ICU. Berikut adalah beberapa tahapan tatalaksana KAD :

1. Penilaian klinik awal
  • Pemeriksaan fisik (termasuk berat badan), tekanan darah, tanda asidosis (hierventilasi), derajat kesadaran (GCS), dan derajat dehidrasi.
  • Konfirmasi biokimia : darah lengkap (sering dijumpai gambaran lekositosis), glukosuria, ketonuria dan analisis gas darah.
Reusitasi :
  • Pertahankan jalan nafas.
  • Pada syok berat berikan oksigen 100% dengan masker.
  • Jika syok berikan larutan isotonik (normal salin 0,9%) 20cc/KgBB bolus.
  • Bila terdapat penurunan kesadaran perlu pemasangan nasogastrik tube untuk menghindari aspirasi lambung.


2. Observasi klinik
Pemeriksaan dan pencatatan harus dilakukan atas :
  • Frekwensi nadi, frekwensi nafas, dan tekanan darah setiap jam.
  • Ukur suhu badan dilakukan setiap 2-4 jam.
  • Pengukuran balance cairan setiap jam.
  • Kadar glukosa darah kapiler setiap jam.
  • Tanda klinis dan neurologis atas edema serebri.
  • EKG : untuk menilai gelombang T, menentukan tanda hipo atau hiperkalemia.
  • Keton urine sampai negatif atau keton darah (bila terdapat fasilitas).


3. Rehidrasi
Penurunan osmolalitas cairan intravaskular yang terlalu cepat dapat meningkatkan resiko terjadinya edema serebri. Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:
  • Tentukan derajat dehidrasi penderita.
  • Gunakan cairan normal salin 0,9%.
  • Total rehidrasi dilakukan 48 jam, bila terdapat hipernatremia (corrected Na) rehidrasi dilakukan lebih perlahan bisa sampai 72 jam.
  • 50-60% cairan dapat diberikan dalam 12 jam pertama.
  • Sisa kebutuhan cairan diberikan dalam 36 jam berikutnya.


4. Penggantian Natrium
  • Koreksi Natrium dilakukan tergantung pengukuran serum elektrolit.
  • Monitoring serum elektrolit dapat dilakukan setiap 4-6 jam.
  • Kadar Na yang terukur adalah lebih rendah, akibat efek dilusi hiperglikemia yang terjadi. Artinya : sesungguhnya terdapat peningkatan kadar Na sebesar 1,6 mmol/L setiap peningkatan kadar glukosa sebesar 100 mg/dL di atas 100 mg/dL.
  • Bila corrected Na lebih dari 150 mmol/L, rehidrasi dilakukan dalam lebih dari 48 jam.
  • Bila corrected Na kurang dari 125 mmol/L atau cenderung menurun lakukan koreksi dengan NaCl dan evaluasi kecepatan hidrasi.
  • Kondisi hiponatremia mengindikasikan overhidrasi dan meningkatkan risiko edema serebri.


5. Penggantian Kalium
Pada saat asidosis terjadi kehilangan Kalium dari dalam tubuh walaupun konsentrasi di dalam serum masih normal atau meningkat akibat berpindahnya Kalium intraseluler ke ekstraseluler. Konsentrasi Kalium serum akan segera turun dengan pemberian insulin dan asidosis teratasi.
  • Pemberian Kalium dapat dimulai bila telah dilakukan pemberian cairan resusitasi, dan pemberian insulin. Dosis yang diberikan adalah 5 mmol/kg BB/hari atau 40 mmol/L cairan.
  • Pada keadaan gagal ginjal atau anuria, pemberian Kalium harus ditunda.

6. Penggantian Bikarbonat
  • Bikarbonat sebaiknya tidak diberikan pada awal resusitasi.
  • Terapi bikarbonat berpotensi menimbulkan : Terjadinya asidosis cerebral, Hipokalemia, Excessive osmolar load, Hipoksia jaringan.
  • Terapi bikarbonat diindikasikan hanya pada asidossis berat (pH kurang dari 7 dengan bikarbonat serum kurang dari 5 mmol/L) sesudah dilakukan rehidrasi awal, dan pada syok yang persistent.
  • Jika diperlukan dapat diberikan 1-2 mmol/kg BB dengan pengenceran dalam waktu 1 jam, atau dengan rumus: 1/3 x (defisit basa x KgBB). Cukup diberikan ¼ dari kebutuhan.

7. Pemberian Insulin
  • Insulin hanya dapat diberikan setelah syok teratasi dengan cairan resusitasi.
  • Insulin yang digunakan adalah jenis Short acting/Rapid Insulin (RI).
  • Dalam 60-90 menit awal hidrasi, dapat terjadi penurunan kadar gula darah walaupun insulin belum diberikan.
  • Dosis yang digunakan adalah 0,1 unit/kg BB/jam atau 0,05 unit/kg BB/jam pada anak kurang dari 2 tahun.
  • Pemberian insulin sebaiknya dalam syringe pump dengan pengenceran 0,1 unit/ml atau bila tidak ada syringe pump dapat dilakukan dengan microburet (50 unit dalam 500 mL NS), terpisah dari cairan rumatan/hidrasi.
  • Penurunan kadar glukosa darah (KGD) yang diharapkan adalah 70-100 mg/dL/jam.
  • Bila KGD mencapai 200-300 mg/dL, ganti cairan rumatan dengan D5 ½ Salin.
  • Kadar glukosa darah yang diharapkan adalah 150-250 mg/dL (target).
  • Bila KGD kurang dari 150 mg/dL atau penurunannya terlalu cepat, ganti cairan dengan D10 ½ Salin.
  • Bila KGD tetap dibawah target turunkan kecepatan insulin.
  • Jangan menghentikan insulin atau mengurangi sampai kurang dari 0,05 unit/kg BB/jam.
  • Pemberian insulin kontinyu dan pemberian glukosa tetap diperlukan untuk menghentikan ketosis dan merangsang anabolisme.
  • Pada saat tidak terjadi perbaikan klinis/laboratoris, lakukan penilaian ulang kondisi penderita, pemberian insulin, pertimbangkan penyebab kegagalan respon pemberian insulin.
  • Pada kasus tidak didapatkan jalur IV, berikan insulin secara intramuskuler atau subkutan. Perfusi jaringan yang jelek akan menghambat absorpsi insulin.

8. Tatalaksana edema serebri
Terapi harus segera diberikan sesegera mungkin saat diagnosis edema serebri dibuat, meliputi:
  • Kurangi kecepatan infus.
  • Mannitol 0,25-1 g/kgBB diberikan intravena dalam 20 menit (keterlambatan pemberian akan kurang efektif).
  • Ulangi 2 jam kemudian dengan dosis yang sama bila tidak ada respon.
  • Bila perlu dilakukan intubasi dan pemasangan ventilator.
  • Pemeriksaan MRI atau CT-scan segera dilakukan bila kondisi stabil.

9. Fase Pemulihan
Setelah KAD teratasi, dalam fase pemulihan penderita dipersiapkan untuk: memulai diet per-oral, peralihan insulin drip menjadi subkutan.

a. Memulai diet per-oral.
  • Diet per-oral dapat diberikan bila anak stabil secara metabolik (KGD kurang dari 250 mg/dL, pH lebih dari 7,3, bikarbonat lebih dari 15 mmol/L), sadar dan tidak mual/muntah.
  • Saat memulai snack, kecepatan insulin basal dinaikkan menjadi 2x sampai 30 menit sesudah snack berakhir.
  • Bila anak dapat menghabiskan snacknya, bisa dimulai makanan utama.
  • Saat memulai makanan, kecepatan insulin basal dinaikkan menjadi 2x sampai 60 menit sesudah makan utama berakhir.

b. Menghentikan insulin intravena dan memulai subkutan.
  • Insulin iv bisa dihentikan bila keadaan umum anak baik, metabolisme stabil, dan anak dapat menghabiskan makanan utama.
  • Insulin subkutan harus diberikan 30 menit sebelum makan utama dan insulin iv diteruskan sampai total 90 menit sesudah insulin subkutan diberikan.
  • Diberikan short acting insulin setiap 6 jam, dengan dosis individual tergantung kadar gula darah. Total dosis yang dibutuhkan kurang lebih 1 unit/kg BB/hari atau disesuaikan dosis basal sebelumnya.
  • Dapat diawali dengan regimen 2/7 sebelum makan pagi, 2/7 sebelum makan siang, 2/7 sebelum makan malam, dan 1/7 sebelum snack menjelang tidur.

Sumber : http://andessi.blogspot.com

Patofisiologi Ketoasidosis Diabetik

Ketoasidosis Diabetik adalah keadaan kegawatan atau akut dari DM tipe I, disebabkan oleh meningkatnya keasaman tubuh benda-benda keton akibat kekurangan atau defisiensi insulin, di karakteristikan dengan hiperglikemia, asidosis, dan keton akibat kurangnya insulin ( Stillwell, 1992).

Diabetik ketoasidosis adalah keadaan yang mengancam hidup komplikasi dari diabetes mellitus tipe 1 tergantung insulin dengan criteria diagnostic yaitu glukosa lebih dari 250 mg/dl, pH = kurang dari 7.3, serum bikarbonat kurang dari 18 mEq/L, ketoanemia atau ketourinia.(Urden Linda, 2008).


Patofisiologi Ketoasidosis Diabetik

Diabetes ketoasidosis disebabakan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah insulin yang nyata, keadaan ini mengakibatkan gangguan pada metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Ada tiga gambaran kliniks yang penting pada diabetes ketoasidosis yaitu dehidrasi, kehilangan elektrolit dan asidosis.

Apabila jumlah insulin berkurang, jumlah glukosa yang memasuki sel akan berkurang pula. Disamping itu produksi glukosa oleh hati menjadi tidak terkendali. Kedua faktor ini akan mengakibatkan hipergikemia. Dalam upaya untuk mnghilangkan glukosa yang berlebihan dari dalam tubuh, ginjal akan mengekresikan glukosa bersama – sama air dan elektrolit (seperti natrium, dan kalium). Diurisis osmotik yang ditandai oleh urinasi berlebihan (poliuri) ini kan menyebabkan dehidrasi dan kehilangan elekrolit. Penderita ketoasidosis yang berat dapat kehilangan kira – kira 6,5 liter air dan sampai 400 hingga 500 mEg natrium, kalium serta klorida selam periode waktu 24 jam.

Akibat defisiensi insulin yang lain adalah pemecahan lemak (lipolisis) menjadi asam – asam lemak bebas dan gliserol. Asam lemak bebas akan diubah menjadi benda keton oleh hati. Pada ketoasidosis diabetik terajdi produksi benda keton yang berlebihan sebagai akibat dari kekurangan insulin yang secara normal akan mencegah timbulnya keadaan tersebut. Benda keton bersifat asam, dan bila bertumpuk dalanm sirkulasi darah, benda keton akan menimbulkan asidosis metabolik (Brunner and suddarth, 2002).

Ketoasidosis Diabetik - Pengertian, Penyebab, Tanda dan Gejala

Ketoasidosis Diabetik

Pengertian Ketoasidosis Diabetik

Ketoasidosis Diabetik (KAD) adalah keadaan dekompensasi kekacauan metabolik yang ditandai oleh trias hiperglikemia, asidosis dan ketosis terutama disebabkan oleh defisiensi insulin absolut atau relatif. KAD dan hipoglikemia merupakan komplikasi akut diabetes melitus (DM) yang serius dan membutuhkan pengelolaan gawat darurat. Akibat diuresia osmotik, KAD biasanya mengalami dehidrasi berat dan dapat sampai menyebabkan syok.


Penyebab Ketoasidosis Diabetik

Ketoasidosis diabetikum di dasarkan oleh adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah insulin yang nyata, yang dapat disebabkan oleh :
  1. Insulin diberikan dengan dosis yang kurang.
  2. Keadaan sakit atau infeksi pada DM, contohnya : pneumonia, kolestisitis, iskemia usus dan apendisitis. Keadaan sakit dan infeksi akan menyertai resistensi insulin. Sebagai respon terhadap stres fisik (atau emosional), terjadi peningkatan hormon – hormon ”stres” yaitu glukagon, epinefrin, norepinefrin, kotrisol dan hormon pertumbuhan. Hormon – hormon ini akan menigkatakan produksi glukosa oleh hati dan mengganggu penggunaan glukosa dalam jaringan otot serta lemak dengan cara melawan kerja insulin. Jika kadar insulin tidak meningkatkan dalam keadaan sakit atau infeksi, maka hipergikemia yang terjadi dapat berlanjut menjadi ketoasidosis diabetik.
  3. Terdapat pada orang yang menderita diabetes oleh adanya stresor yang meningkatkan kebutuhan akan insulin, ini dapat terjadi jika diabetes tidak terkontrol karena ketidakmampuan untuk menjalani terapi yang telah ditentukan.


Tanda dan Gejala Ketoasidosis Diabetik
  1. Poliuria
  2. Polidipsi
  3. Penglihatan kabur
  4. Lemah
  5. Sakit kepala
  6. Hipotensi ortostatik (penurunan tekanan darah sistolik 20 mmHg atau > pada saat berdiri)
  7. Anoreksia, Mual, Muntah
  8. Nyeri abdomen
  9. Hiperventilasi
  10. Perubahan status mental (sadar, letargik, koma)
  11. Kadar gula darah tinggi (> 240 mg/dl)
  12. Terdapat keton di urin
  13. Nafas berbau aseton
  14. Bisa terjadi ileus sekunder akibat hilangnya K+ karena diuresis osmotik
  15. Kulit kering
  16. Keringat
  17. Kusmaul ( cepat, dalam ) karena asidosis metabolik

Patofisiologi Tetralogi Fallot

Patofisiologi Tetralogi Fallot

Tetralogi fallot merupakan kelainan “Empat Sekawan“ yang terdiri dari defek septum ventrikel, overriding aorta, stenosis infundibuler dan hipertrofi ventrikel kanan. Secara anatomis sesungguhnya tetralogi fallot merupakan suatu defek ventrikel subaraortik yang disertai deviasi ke anteriol septum infundibuler (bagian basal dekat dari aorta). Devisiasi ini menyebabkan akar aorta bergeser ke depan (dekstroposisi aorta), sehinnga terjadi overriding aorta terhadap septum interventrikuler, stenosis pada bagian infundibuler ventrikel kanan dan hipoplasia arteri pulmonal. Pada tetralogi fallot, overriding aorta biasanya tidak melebihi 50 %. Apabila overriding aorta melebihi 50 %, hendaknya dipikirkan kemungkinan adanya suatu outlet ganda ventrikel kanan.

Devisiasi septum infindibuler ke arah anteriol ini sesungguhnya merupakan bagian yang paling esensial pada tetralogi fallot.Itulah sebabnya suatu defek septum ventrikel dan overriding aorta yang disertai stenosis pulmonal valvuler misalnya, tidak bisa disebut sebagai tetralogi fallot apabila tidak terdapat devisiasi septum infundibuler ke anteriol. Kadang-kadang tetralogi fallot disertai pada adanya septum antrium sekunder dan kelompok kelainan ini disebut sebagai tetralogi fallot
Betapapun tekanan dalam ventrilel kanan meninggi karena obstruksi infundibuler, tapi dengan adanya defek septum ventrikel pada tetralogi fallot, daerah didorong ke kiri masuk ke aorta, sehingga tekanan dalam ventrikel kanan, ventrikel kiri dan aorta relative menjadi sama. Itulah sebabnya mungkin mengapa pada tetralogi fallot jarang terjadi gagal jantung kongestif, berbeda dengan stenosis pulmonal yang berat tanpa disertai defek septum ventrikel, gagal jantung kongestif bisa saja melebihi tekanan sistemik.

Sianosis merupakan gejala tetralogi fallot yang utama.Berat ringanya sianosis ini tergantung dari severitas stenosis infindibuler yang terjadi pada tetralogi fallot dan arah pirau interventrikuler.Sianosis dapat timbul semenjak lahir dan ini menandakan adanya suatu stenosis pulmonal yang berat atau bahkan atresia pulmonal atau bisa pula sianosois timbul beberapa bulan kemudian pada stenosis pulmonal yang ringan. Sianosis biasanya berkembang perlahan-lahan dengan bertambahnya usia dan ini menandakan adanya peningkatan hipertrofi infindibuler pulmonal yang memperberat obstruksi pada bagian itu.

Stenosis infindibuler merupakan beban tekanan berlebih yang kronis bagi ventrkel kanan, sehingga lama-lama ventrikel kanan mengalami hipertrofi. Disamping itu, dengan meningkatnya usia dan meningkatnya tekanan dalam ventrikel kanan, kolateralisasi aorta pulmonal sering tumbuh luas pada tetralogi fallot, melalui cabang-cabang mediastinal, brokhial, esophageal, subklavika dan anomaly arteri lainya. Kolateralisasi ini disebut MAPCA ( major aorta pulmonary collateral arteries ).

Pathway Tetralogi Fallot (TF)

Tetralogi Fallot (TF)

Pengertian

Tetralogi fallot adalah penyakit jantung bawaan tipe sianotik. Kelainan yang terjadi adalah kelainan pertumbuhan dimana terjadi defek atau lubang dari bagian infundibulum septum intraventrikular (sekat antara rongga ventrikel) dengan syarat defek tersebut paling sedikit sama besar dengan lobang aorta (Sadler, 2000)

Tetralogi fallot adalah kelainan jantung bawaan dengan gangguan sianosis yang ditandai dengan kombinasi 4 hal yang abnormal meliputi defek septum ventrikel, stenosis pulmonal, overriding aorta, dan hipertrofi ventrikel kanan. Komponen yang paling penting dalam menentukan derajat beratnya penyakit adalah stenosis pulmonal dari sangat ringan sampai berat. Stenosis pulmonal bersifat progresif , makin lama makin berat (Underwood, 2000).


Tetralogi fallot (TF) adalah kelainan jantung dengan gangguan sianosis yang ditandai dengan kombinasi 4 hal yang abnormal meliputi Defek septum ventrikel, Stenosis pulmonal, Overriding aorta, dan Hipertrofi ventrikel kanan.
  1. Defek septum ventrikel : adanya lubang di sekat pemisah bilik kiri (ventrikel kiri) dengan bilik kanan (ventrikel kanan)
  2. Stenosis pulmonal : penyempitan klep pembuluh darah yang keluar dari bilik kanan menuju paru, bagian otot dibawah klep juga menebal dan menimbulkan penyempitan
  3. Overriding Aorta : pembuluh darah utama yang keluar dari bilik kiri mengangkang sekat bilik, sehingga seolah-olah sebagian aorta keluar dari bilik kanan
  4. Hipertrofi ventrikel kanan :,penebalan otot bilik kanan akibat kerja keras (karena jalan keluarnya terhambat) dan tekanan dalam rongga ini meningkat.
Komponen yang paling penting dalam menentukan derajat beratnya penyakit adalah stenosis pulmonal dari sangat ringan sampai berat. Stenosis pulmonal bersifat progresif , makin lama makin berat.


Etiologi

Pada sebagian besar kasus, penyebab penyakit jantung bawaa tidak diketahui secara pasti. diduga karena adanya faktor endogen dan eksogen. Faktor –faktor tersebut antara lain :

Faktor endogen
  1. Berbagai jenis penyakit genetik : kelainan kromosom
  2. Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan
  3. Adanya penyakit tertentu dalam keluarga seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung atau kelainan bawaan
Faktor eksogen
  1. Riwayat kehamilan ibu : sebelumnya ikut program KB oral atau suntik,minum obat-obatan tanpa resep dokter, (thalidmide,dextroamphetamine.aminopterin,amethopterin, jamu)
  2. Ibu menderita penyakit infeksi : rubella
  3. Pajanan terhadap sinar -X
Para ahli berpendapat bahwa penyebab endogen dan eksogen tersebut jarang terpisah menyebabkan penyakit jantung bawaan. Diperkirakan lebih dari 90% kasus penyebab adaah multifaktor. Apapun sebabnya, pajanan terhadap faktor penyebab harus ada sebelum akhir bulan kedua kehamilan , oleh karena pada minggu ke delapan kehamilan pembentukan jantung janin sudah selesai.


Tanda dan gejala
  1. Sianosis : Sianosis.à obstruksi meningkat disertai pertumbuhan yang semakin meningkat à hipertropi infundibulum meningkat àObstruksi aliran darah keluar ventrikel kanan.
  2. Dispnea : Terjadi bila penderita melakukan aktifitas fisik.
  3. Serangan-serangan dispnea paroksimal (serangan-serangan anoksia biru) umum pada pagi hari.àSemakin bertambah usia, sianosis bertambah berat.
  4. Keterlambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan. Gangguan pada pertambahan tinggi badan terutama pada anak, keadaan gizi kurang dari kebutuhan normal, pertumbuhan otot-otot dari jaringan subkutan terlihat kendur dan lunak, masa pubertas terlambat.
  5. Denyut pembuluh darah normal. Jantung baisanya dalam ukuran normal, apeks jantung jela sterlihat, suatu getaran sistolis dapat dirasakan di sepanjang tepi kiri tulang dada, pada celah parasternal 3 dan 4.
  6. Bising sistolik : Terdengar keras dan kasar, dapat menyebar luas, tetapi intensitas terbesar pada tepi kiri tulang dada.

Pathway Tetralogi Fallot (TF)

Kamis, 20 Agustus 2015

Gejala, Penyebab dan Pengobatan Katarak pada Manula

Gejala, Penyebab dan Pengobatan Katarak pada Manula
Katarak menyebabkan penglihatan menjadi berkabut/buram. Katarak merupakan keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa atau denaturasi protein lensa, sehingga pandangan seperti tertutup air terjun atau kabut merupakan penurunan progresif kejernihan lensa, sehingga ketajaman penglihatan berkurang (Corwin, 2000).

Gejala Katarak

Gejala umum gangguan katarak meliputi:
  1. Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.
  2. Gangguan penglihatan bisa berupa:
    • Peka terhadap sinar atau cahaya.
    • Dapat melihat dobel pada satu mata (diplobia).
    • Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.
    • Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
    • Kesulitan melihat pada malam hari.
    • Melihat lingkaran di sekeliling cahaya atau cahaya terasa menyilaukan mata.
    • Penurunan ketajaman penglihatan ( bahkan pada siang hari ).

Gejala subjektif dari pasien dengan katarak antara lain:
  1. Biasanya klien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta gangguan fungsional yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan tadi.
  2. Menyilaukan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari.

Gejala objektif biasanya meliputi:
  1. Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina. Hasilnya adalah pandangan menjadi kabur atau redup. Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau putih. Pengelihatan seakan-akan melihat asap dan pupil mata seakan akan bertambah putih.
  2. Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar-benar putih.

Penyebab Katarak

Berbagai macam hal yang dapat mencetuskan katarak antara lain (Corwin,2000):
  1. Usia lanjut dan proses penuaan
  2. Congenital atau bisa diturunkan.
  3. Pembentukan katarak dipercepat oleh faktor lingkungan, seperti merokok atau bahan beracun lainnya.
  4. Katarak bisa disebabkan oleh cedera mata, penyakit metabolik (misalnya diabetes) dan obat-obat tertentu (misalnya kortikosteroid).


Pengobatan Katarak Pada Manula Dengan Operasi

Kacamata dan lampu yang lebih terang mungkin bisa membantu katarak yang ringan, tetapi katarak akan berkembang seiring dengan waktu dan akhirnya penderita akan membutuhkan operasi.

Satu-satunya langkah pengobatan yang terbukti paling efektif adalah operasi. Efek penyembuhan dari operasi akan sangat dirasakan terutama bagi penderita yang kataraknya sudah menghambat kegiatan sehari-hari, seperti mengemudi atau membaca.

Dalam operasi katarak, lensa yang keruh akan diangkat dan digantikan dengan lensa plastik bening. Operasi tersebut biasanya dilakukan dengan pembiusan lokal agar mata Anda menjadi mati rasa. Karena ini termasuk operasi kecil, maka biasanya tidak perlu menginap di rumah sakit.

Meski pemulihan dari operasi akan membutuhkan beberapa waktu (dari beberapa hari hingga minggu), hampir semua orang yang menjalaninya akan merasakan peningkatan pada penglihatan mereka. Penderita biasanya bisa kembali melakukan rutinitas secara normal dalam waktu dua minggu setelah operasi.

Lensa plastik pada mata Anda disesuaikan untuk tingkat penglihatan tertentu. Setelah opersi, pemakaian kacamata akan diperlukan untuk membantu penglihatan jauh atau dekat. Sama halnya jika Anda telah berkacamata, ukuran lensa bisa berubah. Disarankan untuk menunggu pemulihan sampai selesai sebelum membuat kacamata baru.

Kapan Operasi Katarak Diperlukan ?

Kapan Operasi Katarak Diperlukan ?

Ada banyak hal untuk belajar mengenai pentingnya masalah dan kekhawatiran katarak. Demikian juga, adalah sama penting untuk menentukan kapan operasi katarak menjadi keharusan. Pertumbuhan sindrom mata ini dapat disamakan dengan mobil kaca depan atau pintu kaca yang kotor. Katarak mempengaruhi mata dan bermacam-macam perubahan negatif dengan gejala termasuk penglihatan terdistorsi, kesulitan dalam berurusan dengan sinar radiasi dari matahari atau lampu mobil yang menyilaukan, penglihatan yang kusam.

Ada kemungkinan bahwa modifikasi dalam penggunaan kaca mata dapat membantu selama tahap awal dari penyakit katarak. Namun, katarak akan menjadi lebih intens, penglihatan yang terganggu dan membuat kacamata yang lebih kuat dan lensa kontak tidak berguna dalam meningkatkan penglihatan. Pada tahap ini, operasi katrak sudah dekat dan diperlukan. Ahli perawatan mata akan menjadi orang yang pertama untuk memberitahu Anda tentang perkembangan katarak setelah evaluasi mata. Hal ini akan terjadi bahkan jika pasien belum pernah mengalami gejala katarak yang sebenarnya.

Operasi bedah direkomendasikan untuk orang-orang yang memiliki banyak kehilangan penglihatan dan gejala diidentifikasi dengan kondisi ini. Kadang-kadang trauma pada mata atau operasi sebelumnya dapat membuat sulit bagi doketr mata untuk mengamati retina di belakang mata. Dalam keadaan ini, mungkin tepat untuk menyingkirkan katarak sehingga memajukan retina atau evaluasi saraf optik dan pengobatan dapat dilakukan. Cara operasi katarak dapat disesuaikan berdasarkan kondisi medis. Prosedur ini biasanya dilakukan dengan anestesi lokal. Proses ini memakan waktu kurang dari satu jam dan operasi tidak menempatkan tekanan berlebihan pada jantung atau paru-paru.

Rincian penting lainnya tentang Katarak

Saat ini, tidak ada obat atau cara yang pasti membalikkan katarak. Namun demikian, ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi tingkat dimana penyakit mata ini dapat menjadi lebih serius. Strategi ini bahkan dapat mencegah katarak dari pembentukan di tempat pertama. Di antara langkah-langkah pencegahan ini antaralain test penglihatan secara teratur dan perubahan gaya hidup dan kesehatan.

Penilaian mata standar harus fokus pada orang dari segala usia terutama mereka yang berada di luar usia 50. Mereka yang termasuk kelompok usia ini harus memiliki ujian komprehensif untuk mata mereka setelah setiap dua tahun.