Selasa, 23 Februari 2016

Cara Untuk Membuat Kulit Anda Sehat


Cara utama untuk menjaga kulit Anda agar tetap sehat adalah dengan cara mencegah kerusakan. Polutan, udara, matahari serta penuaan alami dapat membuat perubahan pada kulit Anda. Kulit yang kering, gatal, kendur, keriput dan perubahan warna, ada berbagai metode yang dapat Anda lakukan dengan mudah untuk mempertahankan kulit yang sehat, dengan penampilan paling baik.

Menjaga tubuh Anda tetap fit, istirahat yang cukup, serta diet yang sehat dapat membuat kulit sehat dan kuat. Cara lain untuk menjaga kulit Anda sehat adalah dengan menggunakan produk perawatan kulit yang tepat untuk kulit Anda. Produk anti penuaan, perawatan kulit terbaik yang dapat membantu Anda untuk menghidrasi kulit, sekarang tersedia di toko favorit Anda seperti produk perawatan kulit online. Memiliki kulit yang bersih dengan menggunakan pembersih kulit terbaik juga merupakan cara yang bagus untuk mencegah kerusakan kulit.

Salah satu cara yang paling penting untuk melindungi kulit Anda adalah untuk tetap jauh dari sinar matahari yang berbahaya. Radiasi ultraviolet merusak kulit serta dapat mengakibatkan keriput, penuaan dini, bintik-bintik atau bahkan kanker. Harus benar-benar mendapatkan langkah-langkah pencegahan lebih lanjut untuk memastikan bahwa kulit Anda tidak benar-benar terbuka di bawah sinar matahari. Jangan lupa untuk mengingat harus menggunakan tabir surya alami, atau pelembab yang mencakup tabir surya setiap hari. Meskipun, itu tidak berarti bahwa Anda tidak harus pergi keluar sama sekali selama beberapa hari. Kulit Anda juga perlu beberapa sinar matahari setiap hari.

Selain itu, berbagai produk perawatan kulit halus seperti pelembab alami adalah salah satu komponen penting untuk kompleksitas kuat. Terus melembabkan sepanjang hari untuk menjaga kulit Anda kuat.

Pengertian Gastritis Menurut Para Ahli

Pengertian Gastritis Menurut Para Ahli

Gastritis adalah suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus, atau lokal (Price 2005).

Gastritis adalah suatu peradangan lokal atau menyebar pada mukosa lambung yang berkembang bila mekanisme protektif mukosa dipenuhi dengan bakteri atau bahan iritan. ( J. Reves, 1999 )

Gastritis adalah segala radang mukosa lambung( Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah ,Edisi Kedelapan hal 1062).

Gastritis adalah suatu peradangan yang terjadi pada mukosa lambung yang akut dengan kerusakan-kerusakan erosi. (Brunner dan Sudath, 2000 : 1405)

Gastritis daalah peradangan lokal atau penyebaran pada mukosa lambung dan berkembang dipenuhi bakteri (Charlene, 2001).

Gastritis adalah segala radang mukosa lambung (Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi hal 749)

Gastritis atau lebih dikenal sebagai maag berasal dari bahasa yunani yaitugastro, yang berarti perut/lambung dan itis yang berarti inflamasi/peradangan. Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung (Kapita Selecta Kedokteran, Edisi Ketiga hal 492).

Gastritis (dyspepsia/penyakit maag) adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya asam lambung yang berlebih atau meningkatnya asam lambung sehingga mengakibatkan imflamasi atau peradangan dari mukosa lambung seperti teriris atau nyeri pada ulu hati. Gejala yang terjadi yaitu perut terasa perih dan mulas.

Penyebab dan Gejala Utama Penyakit Crohn

Penyakit Crohn adalah penyakit pada saluran pencernaan, di mana bagian dari saluran pencernaan menjadi meradang.

Penyakit Crohn paling sering melibatkan bagian saluran pencernaan pada ujung bawah dari usus kecil dan awal dari usus besar.

Penyakit Crohn juga dapat terjadi di bagian manapun pada sistem pencernaan mulai dari mulut hingga ujung rektum (anus).

Penyakit Crohn adalah suatu bentuk penyakit radang usus.

Kolitis ulseratif adalah suatu kondisi yang terkait.


Penyebab Penyakit Crohn

Penyebab pasti dari penyakit Crohn ini belum diketahui secara pasti. Hal ini bisa terjadi pada saat sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang tubuh dan menghancurkan jaringan tubuh yang sehat (gangguan autoimun).

Ketika bagian dari saluran pencernaan tetap bengkak atau meradang, dinding usus menjadi menebal.

Faktor-faktor yang mungkin berperan pada penyakit Crohn antara lain:
  • Gen dan riwayat keluarga.
  • Faktor lingkungan.
  • Kecenderungan tubuh untuk bereaksi berlebihan terhadap bakteri normal dalam usus.
  • Rokok

Penyakit Crohn dapat terjadi pada semua usia. Dan yang paling sering terjadi antara usia 15 sampai 35.


Gejala Penyakit Crohn

Gejala-gejala yang muncul tergantung pada bagian mana dari saluran pencernaan yang terkena. Gejala bisa mulai dari ringan sampai parah.

Gejala utama penyakit Crohn antara lain:
  • Nyeri / kram di perut.
  • Demam.
  • Kelelahan.
  • Kehilangan selera makan.
  • Merasa ingin buang air besar, meskipun perut sudah kosong. Mungkin merasa tegang, sakit, dan kram.
  • Diare berair dan mungkin berdarah.
  • Penurunan berat badan.
Gejala lain yang mungkin terjadi:
  • Sembelit.
  • Koreng atau bengkak di mata.
  • Pengeringan nanah, lendir, atau kotoran dari sekitar dubur atau anus (yang disebabkan oleh sesuatu yang disebut fistula).
  • Nyeri sendi dan bengkak.
  • sariawan.
  • Perdarahan rektum dan tinja berdarah.
  • Gusi bengkak.
  • Benjolan merah (nodul) di bawah kulit yang dapat berubah menjadi ulkus kulit.

Penyebab, Faktor Resiko dan Gejala Stable Angina


Stable Angina

Angina adalah suatu jenis nyeri dada yang dihasilkan oleh karena berkurangnya aliran darah ke jantung. Berkurangnya aliran darah berarti jantung tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Rasa sakit seperti ini sering dipicu oleh karena aktivitas fisik atau emosional stres.

Stable Angina yang juga disebut angina pectoris adalah suatu jenis yang paling umum dari angina. Biasanya nyeri dada ini bisa dilacak berdasarkan pada apa yang Anda lakukan ketika Anda merasakan nyeri di dada. Dengan pelacakan stable angina dapat membantu Anda mengelola gejala lebih mudah.

Unstable angina adalah bentuk lain dari angina. Unstable angina ini terjadi secara tiba-tiba dan dapat memburuk dari waktu ke waktu. Dan pada akhirnya dapat menyebabkan serangan jantung.

Meskipun Stable angina kurang serius daripada Unstable angina, itu dapat menyebabkan rasa sakit dan tidak nyaman. Kedua jenis angina ini, biasanya merupakan tanda-tanda pada kondisi jantung Anda, jadi sangat penting untuk Anda segera memeriksakan ke dokter apabila Anda mempunyai gejala-gejala tersebut.

Stable angina terjadi pada saat jantung tidak mendapatkan oksigen. Jantung yang bekerja lebih keras ketika olahraga atau stres emosional. Faktor-faktor tertentu, seperti penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis), yang dapat mengakibatkan jantung kurang cukup menerima lebih banyak oksigen. Arteri dapat menjadi sempit pada saat plak (zat yang terbuat dari lemak, kolesterol, kalsium, dan zat lainnya) menumpuk di dalam dinding arteri. Gumpalan darah juga dapat memblokir arteri dan mengurangi aliran darah yang kaya oksigen ke jantung.

Faktor-faktor resiko Stable Angina antara lain kelebihan berat badan, memiliki riwayat penyakit jantung, memiliki kolesterol tinggi atau tekanan darah tinggi, meiliki diabetes, rokok dan tidak berolahraga.

Rasa yang menyakitkan yang terjadi selama episode stable angina sering digambarkan sebagai tekanan yang sangat berat di tengah dada. Rasa nyeri di dada seperti dieremas atau seperti ada beban berat saat beristirahat di dada. Nyeri ini bisa menyebar dari dada ke leher, lengan, dan bahu.

Selama episode stable angina, juga mungkin merasakan sesak napas, mual, kelelahan, pusing, berkeringat banyak dan gelisah.

Gejala-gejala Stable angina cenderung bersifat sementara, yang berlangsung hingga 15 menit dalam kebanyakan kasus. Hal ini berbeda dengan Unstable angina, di mana rasa sakit dapat terus menerus dan lebih parah.

Episode stable angina bisa terjadi setiap saat sepanjang hari. Namun, mungkin juga di pagi hari.

Rabu, 09 Desember 2015

Tips Jadi Cewek Cantik Agar Dilirik Cowok

Pembaca, Tidak bisa dipungkiri, semua wanita pasti ingin terlihat cantik setiap saat. Senang rasanya bila kecantikan Anda dilirik oleh lawan jenis Anda. Bahkan banyak Wanita rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membuat dirinya terlihat sempurna, banyak mengeluarkan biaya untuk bisa menjadi cantik.

Namun, bagaimana cara untuk menjadi cantik di saat harus dengan waktu yang singkat. Seperti dikutip All Women Stalk, ini dia cara mempersingkat waktu merias diri.


1. Tisu Pembersih Wajah atau Toner
Tisu Pembersih Wajah atau Toner akan mempersingkat waktu untuk membersihkan wajah Anda. Tidak perlu Anda menggunakan sabun wajah, hanya dengan cara ini, Anda tetap bisa membuat wajah kembali bersinar tanpa harus membersihkannya dengan air.

2. Make-up Simple untuk Mata
Make-up Simple untuk Mata. Janganlah Anda berlebihan pada saat Anda membingkai mata. Pakailah cara sederhana saja. Coba Anda gunakan eyeliner untuk mempertajam mata. Kemudian, manfaatkan warna natural di bawah alis dan Anda bisa menambahkan maskara sebagai pelengkap untuk membuat bulu mata Anda semakin lentik.

3. Cucilah Rambut Anda dengan Dry Shampo
Di saat Anda sedang terburu-buru dan tidak sempat mencuci rambut, janganlah Anda memaksakan mencuci rambut menggunakan shampo dan kondisioner. Selain hanya memakan waktu, penampilan Anda menjadi kurang sempurna karena rambut yang basah. Bagaimana solusinya ? Solusinya adalah dengan menyemprotkan dry shampo atau shampo kering. Dry shampo bisa dibeli di salon, toko kosmetik dan supermarket seperti Food Hall.

4. Cepol Rambut Saat Tidur untuk Menghasilkan Efek Keriting
Jangan buang-buang waktu Anda untuk mengeriting rambut pada pagi hari. Agar rambut lebih bervolume dan memiliki efek curly, Anda bisa lakukanlah pada malam hari. Bagaimana caranya ? Caranya dengan mencepol rambut tinggi-tinggi, biarkan hingga esok hari. Hasilnya, rambut akan menjadi lebih bergelombang. Selain itu rambut akan lebih sehat karena Anda tidak menggunakan curly iron yang dapat merusak rambut.

5. BB Cream
Cara praktis untuk mendapatkan pelembab, sunblock dan foundation pada wajah adalah dengan menggunakan BB Cream. BB Cream memiliki formula yang lengkap yakni untuk merawat kulit, melembabkan, memiliki kandungan SPF sebagai sunblock serta berwarna seperti foundation, sehingga warna kulit menjadi rata dan Anda tidak perlu lagi menggunakan foundation atau pun bedak.

Minggu, 01 November 2015

Askep ARDS : Diagnosa Keperawatan dan Intervensi

Askep ARDS : Diagnosa Keperawatan dan Intervensi

Diagnosa Keperawatan 1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan:
  • Kehilangan fungsi silia jalan napas (hipoperfusi).
  • Peningkatan jumlah/viskositas secret paru.
  • Meningkatnya tahanan jalan napas (edema interstisial).
Ditandai dengan:
  • Laporan dispnea.
  • Perubahan kedalaman/frekuensi pernapasan, penggunaan otot aksesori untuk bernapas.
  • Batuk (efektif atau tidak efektif) dengan/tanpa produksi sputum.
  • Ansietas/gelisah.
Kriteria hasil:
  • Menyatakan/menunjukkan hilangnya dispnea.
  • Mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih/tak ada ronki.
  • Mengeluarkan secret tanpa kesulitan.
  • Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki/mempertahankan bersihan jalan napas.

Intervensi :
Mandiri:
  • Catat perubahan upaya dan pola bernapas.
  • Observasi penurunan ekspansi dinding dada dan adanya/peningkatan fremitus.
  • Catat karakteristik bunyi napas.
  • Catat karakteristik batuk (missal, menetap, efektif/tak efektif) juga produksi dan karakteristik sputum.
  • Pertahankan posisi tubuh/kepala tepat dan gunakan alat jalan napas sesuai kebutuhan
  • Bantu dengan batuk/napas dalam, ubah posisi dan penghisapan sesuai indikasi.


Kolaborasi :
  • Berikan oksigen lembab, cairan IV: berikan kelembaban ruangan yang tepat.
  • Berikan terapi aerosol, nebulizer ultrasonic.
  • Bantu dengan/berikan fisoterapi dada, contoh drainase postural: perkusi dada/vibrasi sesuai indikasi.
  • Berikan bronkidilator, contoh aminofilin, albuterol (proventil): isoetarin (bronkosol) dan agen mukolitik, contoh asetikistein (Mucomyst), guaifenesin (Robitussin).
  • Awasi untuk efek samping merugikan dari obat, contoh takikardia, hipertensi, tremor, insomnia.

Rasional :
Mandiri:
  • Penggunaan otot interkosta/abdominal dan pelebaran nasal menunjukkan peningkatan upaya bernapas.
  • Ekspansi dada terbatas atau tak sama sehubungan dengan akumulasi cairan, edema, dan secret dalam seksi lobus. Konsolidasi paru dan pengisian cairan dapat meningkatkan fremitus.
  • Bunyi napas menunjukkan aliran udara melalui pohon trakeobronkial dan dipengaruhi oleh adanya cairan, mucus, atau obstruksi aliran udara lain. Mengi dapat merupakan bukti konstriksi bronkus atau penyempitan jalan napas sehubungan dengan edema. Ronki dapat jelas tanpa batuk dan menunjukkan pengumpulan mukus pada jalan napas.
  • Karakteristik batuk dapat berubah tergantung pada penyebab/etiologi gagal pernapasan. Sputum, bila ada mungkin banyak, kental, berdarah, dan atau purulen.
  • Memudahkan memelihara jalan napas atau paten bila jalan napas pasien dipengaruhi mis., gangguan tingkat kesadaran, sedasi dan trauma maksilofasial.
  • Pengumpulan sekresi mengganggu ventilasi atau edema paru dan bila pasien tidak diintubasi, peningkatan masukan cairan oral dapat mengencerkan/meningkatkan pengeluaran.
Kolaborasi :
  • Kelembaban menghilangkan dan memobilisasi secret dan meningkatkan transport oksigen.
  • Pengobatan dibuat untuk mengirimkan oksigen/bonkodilatasi/kelembaban dengan kuat pada alveoli dan untuk memobilisasi secret.
  • Meningkatkan drainase/ eliminasi secret paru ke dalam sentral bronkus, dimana dapat lebih siap dibatukan atau dihisap keluar. Meningkatkan efesiensi penggunaan otot pernapasan dan membantu ekspansi alveoli.
  • Obat diberikan untuk menghilangkan spasme bronkus, menurunkan viskositas secret, memperbaiki ventilsi dan memudahkan pembuangan secret.
  • Memerlukan perubahan dosis/pilihan obat.



Diagnosa Keperawatan 2. Gangguan pertukaran gas
berhubungan dengan:
  • Akumulasi protein dan cairan dalam interstisial/area alveolar.
  • Hipoventilasi alveolar.
  • Kehilangan surfaktan menyebabkan kolaps alveolar.
Ditandai dengan:
  • Takipnea, penggunaan otot aksesori, sianosis.
  • Perubahan GDA, gradien A-a, dan tindakan pirau.
  • Ketidakcocokan ventilasi/perfusi dengan peningkatan ruang mati dan pirau intrapulmonal.

Kriteria hasil:
  • Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernapasan.
  • Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam kemampuan/situasi.
Intervensi :
Mandiri:
  • Kaji status pernapasan dengan sering, catat peningkatan frekuensi/upaya pernapasan atau perubahan pola napas.
  • Catat adanya/tidak adanya bunyi napas dan adanya bunyi tambahan, contoh krakels, mengi.
  • Kaji adanya sianosis.
  • Observasi kecendrungan tidur, apatis, tidak perhatian, gelisah, bingung, somnolen.
  • Auskultasi frekuensi jantung dan irama.
  • Berikan periode istirahat dan lingkungan tenang.
  • Tunjukkan/dorong penggunaan napas bibir bila diindikasikan.
  • Berikan oksigen lembab dengan masker CPAP sesuai indikasi.
  • Bantu dengan/berikan tindakan IPPB.
  • Kaji seri foto dada.
  • Awasi/gambarkan seri GDA/oksimetri nadi.
  • Berikan obat sesuai indikasi contoh steroid, antibiotic, bronkodilator, ekspektoran
Rasional :
Mandiri:
  • Takipnea adalah mekanisme kompensasi untuk hipoksemia dan peningkatan upaya pernapasan dapat menunjukkan derajat hipoksemia.
  • Bunyi napas dapat menurun, tidak sama atau tak ada pada area yang sakit. Kreleks adalah bukti peningkatan cairan dalam area jaringan sebagai akibat peningkatan permeabilitas membrane alveolar-kapiler. Mengi adalah bukti kronstriksi bronkus dan/atau penyempitan jalan napas sehubungan dengan mukus/edema.
  • Penurunan oksigenasi bermakna (desaturasi 5g hemoglobin)terjadi sebelum sianosis. Sianosis sentral dari “organ” hangat, contoh lidah, bibir, dan daun telinga adalah paling indikatif dari hipoksemia sistemik. Sianosis perifer kuku/ekstreminitas sehubungan dengan vasokontriksi.
  • Dapat menunjukkan berlanjutnya hipoksemia dan/atau asidosis.
  • Hipoksemia dapat menyebabkan mudah terangsang pada miokardium, menghasilkan berbagai disritmia.
  • Menghemat energy pasien, menurunkan kebutuhan oksigen.
  • Dapat membantu khususnya untuk pasien yang sembuh dari penyakit lama/berat, mengakibatkan destruksi parenkim paru.
  • Memasimalkan sediaan oksigen untuk pertukaran, dengan tekanan jalan napas positif kontinu.
  • Meningkatkan ekspansi penuh paru untuk memperbaiki oksigenasi dan untuk memberikan obat nebulizer ke dalam jalan napas. Intubasi dan dukungan ventilasi diberikan bila PaO2 kurang dari 60 mmHg dan tidak berespons terhadap peningkatan oksigen murni (FIP2).
  • Menunjukkan kemajuan atau kemunduran kongesti paru.
  • Menunjukkan ventilasi/oksigenasi dan status asam/basa. Digunakan sebagai dasar evaluasi keefektifan terapi atau indicator kebutuhan perubahan terapi.
  • Pengobatan untuk SDPD sangat mendukung lebih besar atau dibuat untuk memperbaiki penyebab SDPD dan mencegah berlanjutnya dan potensial komplikasi fatal hipoksemia. Steroid menguntungkan dalam menurunkan inflamasi dan meningkatkan produksi surfaktan. Bonkodilator/ekspektoran meningkatkan bersihan jalan napas. Antibiotic dapat diberikan pada adanya infeksi paru/sepsis untuk mengobati pathogen penyebab.



Diagnosa Keperawatan 3. : Kelebihan volume cairan
berhubungan dengan:
  • Gangguan mekanisme regulasi.
  • Kelebihan asupan cairan.
  • Kelebihan asupan natrium.

Ditandai dengan:
  • Edema.
  • Gangguan elektrolit.
  • Perubahan pola pernapasan.
  • Asupan melebihi haluaran.
  • Efusi pleura.
  • Dispnea.
Kriteria hasil:
  • Mendemonstrasikan volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan/keluaran, berat stabil, tanda-tanda vital dalam batas normal dan tidak ada edema.
Intervensi :
Mandiri:
  • Pantau pemasukan/pengeluaran. Hitung keseimbangan cairan, catat kehilangan kasat mata. Timabang berat badan sesuai indikasi.
  • Evaluasi turgor kulit, kelembaban membran mukosa, adanya edema dependen/umum
  • Pantau tanda vital (tekanan darah, nadi, frekuensi pernapasan). Auskultasi bunyi napas, catat adanya krekel.
  • Kaji ulang kebutuhan cairan
  • Hilangkan tanda bahaya dan ketahui dari lingkungan.
  • Anjurkan pasien untuk minum dan makan dengan perlahan sesuai indikasi.
Kolaborasi:
  • Berikan cairan IV melalui alat control
  • Pemberian anti emetic, contoh: proklorperazin meleat (compazine), trimetobenzamid (tigan), sesuai indikasi.
  • Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, contoh: Hb/Ht, BUN/kreatinin, protein plasma, elektrolit.

Rasional :
  • Evaluator langsung status cairan. Perubahan tiba-tiba pada berat badan dicurigai kehilanagn/retensi cairan.
  • Indicator langsung satatus cairan/perbaikan keseimbangan.
  • Kekurangan cairan mungkin dimanisfestasikan oleh hipotensi dan takikardi, karena jantung mencoba untuk mempertahankan curah jantung. Kelebihan cairan/terjadinya gagal mungkin dimanifestasikan oleh hipertensi, takikardi, takipnea, krekels, distress pernafasan.
  • Tergantung pasa situasi, cairan dibatasi atau diberikan terus. Pemberian informasi melibatkan pasien pada pembuatan jadwal dengan kesukaan individu dan meningkatkan rasa terkontrol dan kerjasama dalam program.
  • Dapat menurunkan rangsanagan pusat muntah.
  • Dapat menurunkan terjadinya muntah bila mual.


Kolaborasi:
  • Cairan dapat dibutuhkan untuk mencegah dshidrasi, meskipun pembatasan cairan mungkin diperlukan bila pasien GJK
  • Dapat membantu menurunkan mual/muntah (berkerja pada sentral, dari pada dig aster) meningkatkan pemasukan cairan/makanan
  • Mengevaluasi satus hidrasi, fungsi ginjal dan penyebab/efek ketidak seimbangan.



Diagnosa Keperawatan 4. Ansietas
berhubungan dengan:
  • Krisis situasi.
  • Ancaman/perubahan status kesehatan.
  • Faktor psikologis (hipoksemia).
Ditandai dengan:
  • Menyatakan masalah sehubungan dengan perubahan kejadian hidup.
  • Peningkatan tegangan dan tak berdaya.
  • Ketakutan, takut, gelisah.
Kriteria hasil:
  • Menyatakan kesadaran terhadap ansietas dan cara sehat untuk mengatasinya.
  • Mengakuai dan mendiskusikan takut.
  • Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat ditangani.
  • Menunjukkan pemecahan masalah dan penggunaan sumber efektif.
Intervensi :
Mandiri:
  • Observasi peningkatan kegagalan pernapasan, agitasi, gelisah, emosi labil.
  • Pertahankan lingkungan tenang dengan sedikit rangsang. Jadwalkan perawatan dan prosedur untuk memberikan periode istirahat tak terganggu.
  • Tunjukkan/bantu dengan teknik relaksasi, meditasi, bimbingan imajinasi.
  • Identifikasi persepsi pasien terhadap ancaman yang ada oleh situasi.
  • Dorong pasien untuk mengakui dan menyatakan perasaan.

Kolaborasi:
  • Berikan sedative sesuai indikasi dan awasi efek merugikan.

Rasional :
Mandiri :
  • Memburuknya hipoksemia dapat menyebabkan atau meningkatkan ansietas.
  • Menurunkan ansietas dengan meningkatkan relaksasi dan penghematan energy.
  • Memberikan kesempatan untuk pasien menangani ansietasnya sendiri dan merasa terkontrol.
  • Membantu pengenalan ansietas /takut dan mengidentifikasi tindakan yang dapat membantu untuk individu.
  • Langkah awal dalam mengatasi perasaan adalah terhadap identifikasi dan ekspresi. Mendorong penerimaan situasi dan kemampuan diri untuk mengatasi.
  • Membantu pasien menerima apa yang terjadi dan dapat menurunkan tingkat ansietas/takut karena tak tahu. Salah meyakinkan tidak membantu, karena baik perawat dan pasien mengetahui hasil akhirnya.
  • Focus perhatian pada keterampilan pasien yang telah dilalui, meningkatkan rasa control diri.
  • Meningkatkan penurunan ansietas melihat orang lain tetap tenang. Karena ansietas dapat menular, bila orang terdekat/staf memperlihatkan ansietas mereka, kemampuan koping pasien dapat dengan mudah dipengaruhi.
  • Akui kenyataan stress tanpa menyangkal atau meyakinkan bahwa segalanya akan baik. Berikan informasi tentang tindakan yang akan diambil untuk memperbaiki/menghilangkan kondisi.
  • Identifikasi teknik yang telah digunakan pasien sebelumnya untuk mengatasi ansietas.
  • Bantu orang terdekat untuk berespons positif pada pasien/situasi.
Kolaborasi :
  • Mungkin diperlukan untuk membantu menangani ansietas dan meningkatkan istirahat. Namun efek samping seperti depresi pernapasan sapat membatasi atau kontraindiksi untung menggunakannya.


Diagnosa Keperawatan 5. Kurangnya pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, kebutuhan terapi
berhubungan dengan:
  • Kurang informasi.
  • Kesalahan interpretasi informasi.
  • Kurang mengingat.
Ditandai dengan:
  • Permintaan informasi.
  • Pernyataan masalah.
Kriteria hasil:
  • Menjelaskan hubungan antara proses penyakit dan terapi.
  • Menggambarkan/menyatakan diet, obat, dan program aktivitas.
  • Mengidentifikasi dengan benar tanda dan gejala yang memerlukan perhatian medic.
  • Membuat rencana untuk perawatan lanjut.

Intervensi :
Mandiri:
  • Pacu belajar untuk memenuhi kebutuhan pasien. Berikan informasi dalam cara yang jelas/ringkas. Kaji potensial kerjasama dalam program pengobatan dirumah. Termasuk orang terdekat sesuai indikasi.
  • Berikan informasi yang berpusat pada penyebab/timbulnya proses penyakit pada pasien/orang terdekat.
  • Anjurkan dalam tindakan pencegahan, bila diperlukanDiskusikan menghindar kerja berlebihan dan pentingnya mempertahankan periode istirahat teratur. Hindari lingkungan dingin dan orang yang sedang infeksi.
  • Berikan informasi verbal dan tertulis tentang obat, contoh tujuan, efek samping, rute, dosis, jadwal.
  • Kaji konseling nutrisi tentang rencana makan; kebutuhan makanan tinggi kalori.
  • Berikan pedoman untuk aktivitas.
  • Tunjukan teknik bernapas adaptif dan cara menurunkan kebutuhan energy selama melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Diskusikan evaluasi perawatan, contoh kunjungi dokter, tes diagnostic fungsi paru, dan tanda/gejala yang memerlukan evaluasi/intervensi,
  • Bantu membuat rencana memenuhi kebutuhan individu setelah pulang.

Rasional :
  • Sembuh dari gangguan gagal paru dapat sangat menghambat lingkup perhatian pasien, konsentrasi dan energy untuk penerimaan informasi/tugas baru. Khususnya orang terdekat memerlukan keterlibatan bila proses penyakit berat atau berubah untuk batasan kesembuhan.
  • SDPD/ARDS adalah komplikasi dari proses lain, bukan diagnose utama. Pasien/orang terdekat sering bingung dengan terjadinya pada sistem pernapasan “sehat” sebelumnya.
  • Penurunan tahanan menetap selama periode waktu setelah operasi. Kontrol/menghindari pemajanan pada factor lingkungan, seperti asap/debu, reaksi alergis, atau infeksi diperlukan untuk menghindari komplikasi lanjut.
  • Pemberian instruksi penggunaan obat yang aman memampukan pasien untuk mengikuti dengan tepat program pengobatan.
  • Pasien dengan masalah pernapasan berat biasanya mengalami penurunan berat badan dan anoreksia sehingga memerlukan peningkatan nutrisi untuk penyembuhan.
  • Pasien harus menghindari terlalu lelah dan mengimbangi periode istirahat dan aktivitas untuk meningkatkan regangan/stamina dan mencegah konsumsi/kebutuhan oksigen berlebihan.
  • Kondisi lemah dapat membuat kesulitan untuk pasien menyelesaikan tindakan sedarhana pun.
  • Pemahaman alasan dan kebutuhan mengikuti evaluasi perawatan, juga kebutuhan untuk perhatian medic meningkatkan partisipasi pasien dan dapat meningkatkan kerjasama dengan program pengobatan.
  • Memungkinkan kembali ke rumah sementara tetap memberikan dukungan yang diperlukan selama periode penyembuhan/perbaikan.

Sumber : rusiindahyani.blogspot.co.id

Pengertian ARDS Menurut Para Ahli

Pengertian ARDS Menurut Para Ahli

ARDS adalah Suatu penyakit yang disebabkan oleh kerusakan luas alveolus dan/atau membrane kapiler paru. ARDS selalu terjadi setelah suatu gangguan besar pada system paru, kardiovaskuler, atau tubuh secara luas. (Ellizabeth J. Corwin, 1997)

Gagal nafas akut /ARDS adalah ketidakmampuan sistem pernafasan untuk mempertahankan oksigenasi darah normal (PaO2), eliminasi karbon dioksida (PaCO2) dan pH yang adekuat disebabkan oleh masalah ventilasi difusi atau perfusi (Susan Martin T, 1997)

ARDS adalah keadaan darurat medis yang dipicu oleh berbagai proses akut yang berhubungan langsung ataupun tidak langsung dengan kerusakan paru. (Aryanto Suwondo,2006).

ARDS adalah bentuk khusus dari kegagalan pernapasan yang ditandai dengan hipoksemia yang jekas dan tidak dapat diatasi dengan penanganan konvensional. ARDS diawalai dengan berbagai penyakit yang srius yang pada akhirnya mengakibatkan edema paru-paru difus nonkardiogenikyang khas. (Sylvia A. price & Lorraine M. Wilson, 1995)

Gagal nafas akut/ARDS terjadi bilamana pertukaran oksigen terhadap karbondioksida dalam paru-paru tidak dapat memelihara laju komsumsioksigen dan pembentukan karbon dioksida dalam sel-sel tubuh. Sehingga menyebabkan tegangan oksigen kurang dari 50 mmHg (Hipoksemia) dan peningkatan tekanan karbondioksida lebih besar dari 45 mmHg (hiperkapnia). (Brunner & Sudarth, 2001)