Tampilkan postingan dengan label Diagnosa Keperawatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diagnosa Keperawatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 April 2015

Fatigue - Diagnosa Keperawatan NOC NIC

Fatigue - Diagnosa Keperawatan NOC NIC

Fatigue adalah kelimpahan yang mendukung perasaan lelah dan penurunan kapasitas kerja fisik dan mental pada tingkat biasanya.

Diagnosa : Fatigue
Domain 4 : Activity/Rest
Class 3 : Energy Balance

Definisi : kelimpahan yang mendukung perasaan lelah dan penurunan kapasitas kerja fisik dan mental pada tingkat biasanya.

Batasan karakteristik :
  1. Peningkatan dalam keluhan fisik
  2. Peningkatan keperluan untuk istirahat
  3. Penerimaan kebutuhan energi tambahan untuk mengerjakan tugas rutin
Data Objektif :
  1. Klien sering berganti posisi pada saat duduk.
  2. Paras klien terlihat tampak lelah.
Data Subjektif:
  1. Klien mengatakan akhir-akhir ini sering sakit di bagian pundak, pinggul, punggung dan pantat.
  2. Klien mengatakan stress pada saat ditinggal anak pertamanya.
Faktor yang berhubungan :
  1. Psychological : Stress
  2. Physiological : Peningkatan penggunaaan aktifitas fisik
  3. Situasional : Pekerjaan
NOC :

Definisi : Rasa kelelahan berlebihan yang berkelanjutan

1. Activity Tolerance
Respon fisiologis penggunaan energi untuk pergerakan aktivitas sehari-hari

Kriteria Hasil :
  • Klien mampu mempertahankan tekanan sistolik dan diastolik yang normal selama beraktivitas
  • Klien mampu mengurangi kegiatan aktivitas sehari-hari
2. Energy Conservation
Tindakan individu untuk mengatur energi selama memulai dan mempertahankan aktivitas

Kriteria Hasil :
  • Klien mampu menyeimbangkan antara aktivitas dan istirahat
  • Klien mampu menggunakan waktu istirahat untuk memulihkan kembali energi
  • Klien mampu mengenali keterbatasan energi yang dimiliki
  • Klien mampu menggunakan teknik penyimpanan energi (Energy Conservation)
  • Klien mampu mengatur aktivitasnya untuk penyimpan energy
3. Fatigue Level
Mengobservasi atau melaporkan keparahan dari kelelahan yang berkepanjangan secara umum

Kriteria Hasil :
  • Klien melaporkan tidak adanya kelelahan dan kelesuan
  • Klien melaporkan tidak adanya nyeri otot
  • Klien memlaporkan tidak adakanya peningkatan stress
  • Klien mampu meningkatkan kualitas tidur dan istirahatnya
  • Klien mampu menyeimbangkan antara aktivitas dan istirahat
4. Rest
Kuantitas dan pola pengurangan aktivitas untuk pemulihan fisik dan mental

Kriteria hasil :
  • Klien mampu meningkatkan jumlah istirahat
  • Klien mampu meningkatkan kualitas istirahat
  • Klien mampu meningkatkan istirahat fisik
  • Klien mampu memulihkan energy setelah istirahat
5. Stress Level
Manisfestasi keparahan tekanan fisik dan mental hasil dari faktor yang mengubah kondisi yang ada.

Kriteria Hasil :
  • Klien tidak mengeluhkan kurangnya istirahat
  • Klien melaporkan tidak adanya peningkatan tekanan otot pada leher, bahu dan punggung
NIC :
1. Energy Enhancement
Mengatur penggunaaan enrgi untuk penanganan atau pencegahan kelelahan dan mengoptimalkan fungsi

Aktivitas :
  • Tentukan penyebab kelelahan misalnya nyeri
  • Tentukan apa saja dan berapa banyak aktivitas yang dibutuhkan untuk membangun ketahanan
  • Batasi aktivitas yang berlebih
  • Dukung alternatif periode istirahat dan aktivitas
  • Instruksikan pasien atau orang lain yang penting untu mengenalai tanda dan gejala dari kelelahan yang membutuhkan pengurangan aktivitas
  • Bantu klien untuk mengidentifikasi tugas-tugas yang dapat dilakukan keluarga di rumah untuk mencegah atau mengurangi kelelahan
  • Ajarkan pengaturan aktivitas dan teknik manajemen waktu untuk mencegah kelelahan
  • Bantu klien dalam menentukan prioritas aktivitas untuk menyimpan energi yang dimiliki
2. Sleep Enhancement
Fasilitasi siklus tidur/bangun yang umum

Aktivitas :
  • Tentukan pola tidur atau aktivitas klien
  • Monitor partisipasi dalam aktivitas yang menyebabkan kelelahan selama terbangun untuk menghindari kelelahan yang berat
  • Sediakan waktu istirahat di siang hari, jika di perlukan
3. Support System Enhancement
Fasilitasi dukungan pada klien oleh keluarga, teman dan komunitas

Aktivitas :
  • Kaji respon psikologis terhadap situasi dan ketersediaan support system
  • Identifikasi tingkat dukungan keluarga
  • Tentukan support system yang digunakan sekarang
  • Monitor situasi keluarga saat ini
  • Jelaskan bagaimana orang lain dapat membantu klien

Senin, 19 Januari 2015

Diagnosa Keperawatan - Askep BBLR


Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499). Bayi lahir rendah mungkin prematur (kurang bulan), mungkin juga cukup bulan (dismatur) (Saifuddin, 2006).
Pada tahun 1961, WHO mengganti istilah bayi prematur dengan Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) karena disadari tidak semua bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir adalah bayi prematur (Winkjosastro, 2006).

Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tampa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir (Prawirohardjo, 2006).

Bayi lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu faktor yang mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi khususnya pada masa perinatal. Selain itu bayi berat lahir rendah dapat mengalami gangguan mental dan fisik pada usia tumbuh kembanga selanjutnya sehingga membutuhkan biaya perawatan yang tinggi (Anonim, 2006).

Menurut Badriul (2009) Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2500 gram, tanpa memandang usia kehamilan. BBLR dibedakan menjadi dua bagian: pertama BBLR sangat rendah bila berat lahir kurang dari 1500 gram, dan kedua BBLR bila berat lahir antara 1501- 2499 gram.

Diagnosa yang bisa ditegakkan oleh seorang perawat pada bayi dengan BBLR yaitu:

1. Pola nafas yang tidak efektif
berhubungan dengan :
  • imaturitas pusat pernapasan,
  • keterbatasan perkembangan otot penurunan otot atau kelemahan,
  • ketidakseimbangan metabolik.
2. Resiko termoregulasi inefektif
berhubungan dengan
  • SSP imatur (pusat regulasi residu, penurunan massa tubuh terhadap area permukaan, penurunan lemak sebkutan, ketidakmampuan merasakan dingin dan berkeringat, cadangan metabolik buruk)

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan
  • penurunan simpanan nutrisi,
  • imaturitas produksi enzim,
  • otot abdominal lemah,
  • refleks lemah.

4. Resiko infeksi
berhubungan dengan
  • pertahanan imunologis yang tidak efektif.
5. Resiko kekurangan volume cairan
berhubungan dengan
  • usia dan berat ekstrem,
  • kehilangan cairan berlebihan (kulit tipis),
  • kurang lapisan lemak,
  • ginjal imatur/ kegagalan mengonsentrasikan urine.

6. Resiko cedera akibat bervariasinya aliran darah otak, hipertensi atau hipotensi sistemik, dan berkurangnya nutrient seluler (glukosa dan oksigen)
berhubungan dengan
  • system sraf sentral dan respons stress fisiologis imatur.

7. Nyeri
berhubungan dengan
  • prosedur, diagnosis dan tindakan.
8. Resiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan
berhubungan dengan
  • kelahiran premature,
  • lingkungan NICU tidak alamiah,
  • perpisahan dengan orang tua.
9. Resiko gangguan integritas kulit
berhubungan dengan
  • imobilitas,
  • kelembaban kulit.
10. Kecemasan orang tua
berhubungan dengan
  • kondisi penyakit bayinya.

Rabu, 14 Januari 2015

Diagnosa Keperawatan - Askep AMI (Acute Myocardial Infarction)

Asekp AMI (Acute Myocardial Infarction)
I. Nyeri akut yang b/d ketidak seimbangan suplai darah dan oksigen dengan kebutuhan miokardium.

Tujuannya : terdapat penurunan respon nyeri dada.

Intervensi :

1. Kaji karateristik nyeri, lokasi ,intensitas ,lama dan penyebarannya.
Rasional : variasi penampilan dan perilaku klien karena nyeri terjadi sebagai temuan pengkajian.

2. Kolaborasi pemberian terapi farmakologis antiangina.
Rasional : obat-obatan antiangina bertujuan untuk meningkatkan aliran darah, baik dengan menambah supali oksigen maupun dengan mengurangi kebutuhan miokardium akan oksigen.

3. Kolaborasi pemberian terapi farmakologis trombolitik.
Rasional : trombolitik menghancurkan thrombus dengan mekanisme fibrinolitik, mengubah plasminogen menjadi plasmin yang menghancurkan fibrin dalam bekuan darah.

4. Kolaborasi untuk tindakan terapi nonfarmakologi.
Rasional : kolaborasi apabila tindakan tidak menunjukkan perbaikan atau penurunan nyeri.


II. Actual/risiko tinggi menurunnya curah jantung b/d perubahan frekuensi, irama dan konduksi elektrikal.

Tujuan : tidak terjadi penurunan curah jantung.

Intervensi :

1. Auskultasi TD ,bandingkan kedua lengan ,ukur dalam keadaan berbaring ,duduk , atau berdiri bila memungkinkan.
Rasional : hipotensi dapat terjadi pada disfungsi ventrikel.

2. Evaluasi kualitas dan kesamaan nadi.
Rasional : penurunan curah jantung mengakibatkan penurunan kekuatan nadi.

3. Pantau frekuensi dan irama jantung
Rasional : perubahan frekuensi dan irama jantung menunjukkan komplikasi distritmia.

4. Berikan makanan kecil/mudah dikunyah ,batasi asupan kafein.
Rasional : makanan besar dapat meningkatkan karja miokarsium. Kafein dapat merangsang langsung ke jantung ,sehingga meningkatkan frekuensi jantung.


III. Actual/ risiko tinggi pola nafas tidak efektif yang b/d pengembangan paru tidak optimal, kelebihan cairan di paru sekunder edema paru akut.

Tujuan : tidak terjadi perubahan pola nafas.

Intervensi :

1. Auskultasi bunyi nafas.
Rasional : indikasi edema paru sekunder akibat dekopensasi jantung.

2. Kaji adanya edema.
Rasional : curiga gagal kongestif/kelebihan volume cairan.

3. Ukur intake dan input klien
Rasional : penurunan curah jantung mengakibatkan gangguan perfusi ginjal, retensi natrium/air dan penurunan keluarnya urin.

4. Timbang berat badan.
Rasional : perubahan tiba-tiba dari berat badan menunjukkan gangguan keseimbangan cairan.

5. Pertahankan pemasukan total cairan 2.000 ml/24 jam dalam toleransi kardiovaskuler.
Rasional : memenuhi kebutuhan cairan tubuh orang dewasa, tetapi memerlukan pembatasan dengan adanya dekopensasi jantung.



IV. Actual/risiko tinggi gangguan perfusi yang b/d menueunnya curah jantung.

Tujuan : perfusi perifer meningkat.

Intervensi :

1. Auskultasi TD. Bandingkan kedua lengan, ukur dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri bila mampu.
Rasional : hipotensi dapat terjadi sampai dengan disfungsi ventrikel.

2. Kaji status mental klien secara teratur.
Rasional : mengetahui darajat hipoksia pada otak.

3. Kaji warna kulit, suhu, sianosis, nadi perifer dan diaphoresis secara teratur.
Rasional : mengetahui derajat hiposekmia dan peningkatan tahanan perifer.

4. Kajiadanya kongesti hepar pada abdomen kanan atas.
Rasional : sebagai gagal jantung kanan. Jika berat, akan ditemukan adanya tanda kengestif.

5. Catat murmur.
Rasional : menunjukkan gangguan aliran darah jantung, (kelainan katup, kerusakan septum, atau fibrasi otot kapiler).



V. Intoleransi aktivitas yang b/d penurunan perfusi perifer sekunder dari ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan.

Tujuan : akticitas klien mengalami peningkatan.

Intervensi :

1. Catat frekuensi jantung ,irama ,dan perubahan tekanan darah selama dan sesudah aktivitas
Rasional : respons klien terhadap aktivitas dapat mengindikasikan penurunan oksigen miokardum.

2. Tingkat istirahat, batasi aktivitas, dan berikan aktivitas senggang yang tidak berat.
Rasional : menurunkan kerja miokardium /konsumsi oksigen.

3. Anjurkan untuk menghindari peningkatan tekanan abdomen, misalnya mengejan saat defekasi.
Rasional : dengan mengejan dapat mengakibatkan bradikardi, menurunkan curah jantung dan takikardia, serta peningkatan TD.

4. Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktivitas. Contoh : bangun dari tempat tidur bila tak ada rasa nyeri, ambulasi, dan istirahat selama 1 jam setelah makan.
Rasional : aktivitas yang maju memberikan control jantung, meningkatkan regangan dan mencegah aktivitas berlebihan.

5. Rujuk ke program rehabilitas jantung.
Rasional : meningkatkan jumlah oksigen yang ada untuk peningkatan miokardium sekaligus mengurangi ketidaknyamanan karena iskemia.


VI. Cemas yang b/d rasa takut akan kematian, ancaman,atau perubahan kesehatan.

Tujuan : kecemasan klien berkurang.

Intervensi :

1. Bantu klien mengekspresikan perasaan marah,kehilangan, dan takut.
Rasionala : cemas berkelanjutan memberikan dampak serangan jantung selanjutnya.

2. Kaji tanda verbal dan nonverbal kecemasan, serta damping klien dan lakukan tindakan bila menunjukkan perilaku merusak.
Rasional : reaksi verbal /nonverbal dapat menunjukkan rasa agitasi, marah, dan gelisah.

3. Hindari konfrontasi.
Rasional : konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah, menunjukkan kerjasama, mungkin memperlambat penyembuhan.

4. Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan.
Rasional : orientasi dapat meurunkan kecemasan.

5. Kolaborasi :berikan anticemas sesuai indikasi contohnya diazepam.
Rasional : meningkatkan relaksasi dan menurunkan kecemasan.


VII. Koping individu tidak efektif yang b/d prognogsis penyakit, gambaran diri yang salah, dan perubahan peran.

Tujuan : klien mampu mengembangkan koping yang positif.

Intervensi :

1. Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan.
Rasional : menentukan bantuan individual dalam menyusun rencana perawatan atau pemilihan intervensi.

2. Identifikasi arti dari kehilangan atau disfungsi klien.
Rasional : beberapa kien dapat menerima dan mengeatur perubahan fungsi secara efektif dengan sedikit penyesuaian diri. sedangkan yang lain mempunyai kesulitan membandingkan mengenal dan mengatur kekurangan.

3. Anjurkan klien untuk mengeksoresikan perasaan, termaksud permusuhan dan kemarahan.
Rasional : menunjukkan penerimaan, membantu klien untuk mengenal dan mulai menyesuaikan dengan perasaan tersebut.

4. Dukung perilaku atau usaha klien seperti peningkatan minat atau partisipasi dalam aktivitas rehabilitas.
Rasional : klien dapat beradaptasi terhadap perubahan dan pengertian tentang peran individu pada masa mendatang.

5. Pantau gangguan tidur peningkatan kesulitan kosentrasi ,latergi ,dan menarik diri.
Rasional : dapat mengindikasikan terjadinya depresi .umumnya terjadi sebagai pengaruh dari stroke dimana memerlukan intervensi dan evaluasi lebih lanjur.


VIII. Risiko kekambuhan yang b/d ketidakpatuhan terhadap peraturan terapeutik tidak mau menerima perubahan pola hidup yang sesuai.

Tujuan : klien mengenal factor-faktor yang menyebabkan peningkatan risiko kekambuhan .
Intervensinya :

1. Identifikasi factor yang mendukung pelaksanaan terapeutik.
Rasional : keluarga terdekat apakah suami/istri atau anak yang mampu mendapat penjelasan dan menjadi pengawas klien dalam manjalankan pola hidup yang efektif selama klien dirumah dan memiliki waktu yang optimal dalam menjaga klien.

2. Berikan penjelasan penatalaksanaan terapeutik lanjutan.
Rasional : setelah mengalami serangan jantung akut ,perawat perlu menjelaskan lanjutan dengan tujuan dapat; membatasi ukuran infark, menurunkan nyeri dan kecemasan aritmia dan komplikasi.

3. Beri dukungan secara psikologis.
Rasional : dapat mampu meningkatkan motivasi klien dalam mematuhi apa yang telah debarikan penjelasan.

Sabtu, 10 Januari 2015

Diagnosa Keperawatan - Askep Hipertensi


Diagnosa Keperawatan Hipertensi

1. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, hipertrofi/rigiditas ventrikuler, iskemia miokard.


NOC :
  • Cardiac Pump effectiveness
  • Circulation Status
  • Vital Sign Status
Kriteria Hasil:
  • Tanda Vital dalam rentang normal (Tekanan darah, Nadi, respirasi)
  • Dapat mentoleransi aktivitas, tidak ada kelelahan
  • Tidak ada edema paru, perifer, dan tidak ada asites
  • Tidak ada penurunan kesadaran



NIC :

Cardiac Care
  • Evaluasi adanya nyeri dada ( intensitas,lokasi, durasi)
  • Catat adanya disritmia jantung
  • Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac putput
  • Monitor status kardiovaskuler
  • Monitor status pernafasan yang menandakan gagal jantung
  • Monitor abdomen sebagai indicator penurunan perfusi
  • Monitor balance cairan
  • Monitor adanya perubahan tekanan darah
  • Monitor respon pasien terhadap efek pengobatan antiaritmia
  • Atur periode latihan dan istirahat untuk menghindari kelelahan
  • Monitor toleransi aktivitas pasien
  • Monitor adanya dyspneu, fatigue, tekipneu dan ortopneu
  • Anjurkan untuk menurunkan stress


Vital Sign Monitoring
  • Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
  • Catat adanya fluktuasi tekanan darah
  • Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri
  • Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
  • Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas
  • Monitor kualitas dari nadi
  • Monitor adanya pulsus paradoksus
  • Monitor adanya pulsus alterans
  • Monitor jumlah dan irama jantung
  • Monitor bunyi jantung
  • Monitor frekuensi dan irama pernapasan
  • Monitor suara paru
  • Monitor pola pernapasan abnormal
  • Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
  • Monitor sianosis perifer
  • Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
  • Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.

NOC :
  • Energy conservation
  • Self Care : ADLs
Kriteria Hasil :
  • Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR
  • Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara mandiri

NIC :

Energy Management
  • Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas
  • Dorong anal untuk mengungkapkan perasaan terhadap keterbatasan
  • Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan
  • Monitor nutrisi dan sumber energi tangadekuat
  • Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan
  • Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas
  • Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien
Activity Therapy
  • Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalammerencanakan progran terapi yang tepat.
  • Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
  • Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yangsesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan social
  • Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan
  • Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek
  • Bantu untu mengidentifikasi aktivitas yang disukai
  • Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang
  • Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas
  • Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas
  • Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan
  • Monitor respon fisik, emoi, social dan spiritual

3. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.

NOC :
  • Pain Level,
  • Pain control,
  • Comfort level
Kriteria Hasil :
  • Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
  • Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
  • Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
  • Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
  • Tanda vital dalam rentang normal


NIC :

Pain Management
  • Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
  • Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
  • Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
  • Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
  • Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
  • Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
  • Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
  • Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
  • Kurangi faktor presipitasi nyeri
  • Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)
  • Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
  • Ajarkan tentang teknik non farmakologi
  • Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
  • Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
  • Tingkatkan istirahat
  • Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
  • Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri
Analgesic Administration
  • Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
  • Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
  • Cek riwayat alergi
  • Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu
  • Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri
  • Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
  • Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur
  • Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali
  • Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat
  • Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)

4. Cemas berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya hipertensi yang diderita klien

NOC
  • Anxiety Control
  • Coping
  • Vital Sign Status
Kriteria Hasil :
  • Menunjukan teknik untuk mengontrol cemas รจ teknik nafas dalam
    Postur tubuh pasien rileks dan ekspresi wajah tidak tegang
    Mengungkapkan cemas berkurang
    TTV dbn
    TD = 110-130/ 70-80 mmHg
    RR = 14 – 24 x/ menit
    N = 60 -100 x/ menit
    S = 365 – 375 0C

NIC

Anxiety Reduction
  • Gunakan pendekatan yang menenangkan
  • Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
  • Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
  • Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
  • Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis
  • Dorong keluarga untuk menemani anak
  • Lakukan back / neck rub
  • Dengarkan dengan penuh perhatian
  • Identifikasi tingkat kecemasan
  • Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
  • Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi
  • Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
  • Barikan obat untuk mengurangi kecemasan

5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit

NOC :
  • Kowlwdge : disease process
  • Kowledge : health Behavior
Kriteria Hasil :
  • Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan
  • Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar
  • Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.


NIC :

Teaching : disease Process
  • Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik
  • Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
  • Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat
  • Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
  • Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat
  • Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat
  • Hindari harapan yang kosong
  • Sediakan bagi keluarga atau SO informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat
  • Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit
  • Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
  • Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan
  • Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat
  • Rujuk pasien pada grup atau agensi di komunitas lokal, dengan cara yang tepat
  • Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat


DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC,

Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima Medika
http://lpkeperawatan.blogspot.com/2013/11/laporan-pendahuluan-hipertensi.html#.VLFn-clxLCN

Rabu, 20 Agustus 2014

Diagnosa Keperawatan - Askep Abses Mandibula

Menurut T. Heather Herdman, et.al (2007), diagnosa keperawatan pada pasien dengan abses mandibula adalah:

1. Nyeri Akut yang berhubungan dengan egen injuri biologi
Menurut Carpenito (2000) nyeri akut adalah keadaan dimana individu melaporkan dan mengalami adanya rasa ketidaknyamanan yang hebat atau sensasi yang tidak menyenangkan selama enam bulan atau kurang.

2. Hipertermi yang berhubungan dengan proses penyakit.
Menurut Carpenito (2000) Hipertermi adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko untuk mengalami kenaikan suhu tubuh terus menerus lebih tinggi dari 37,5°C peroral atau 38,°C per rektal karena faktor–faktor eksternal.

3. Kerusakan Intergritas kulit yang berhubungan dengan trauma mekanik.
Menurut Carpenito (2000) kerusakan integritas kulit adalah suatu keadaan dimana seorang individu mengalami atau beresiko mengalami kerusakan jaringan epidermis dan dermis.



Sedangkan menurut Doenges, (2001) diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan infeksi rongga mulut adalah:

1. Defisit volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan perdarahan post operasi. Menurut Carpenito (2000) defisit volume cairan dan elektrolit adalah Keadaan dimana seorang individu yang tidak menjalani puasa mengalami atau beresiko mengalami dehidrasi vaskuler, interstisial atau intravaskuler.

2. Nyeri berhubungan dengan adanya proses peradangan, luka insisi pembedahan. Menurut Carpenito (2000) nyeri akut adalah keadaan dimana individu melaporkan dan mengalami adanya rasa ketidaknyamanan yang hebab atau sensasi yang tidak menyenangkan selama enam bulan atau kurang.

3. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan pembedahan, tidak adekuatnya pertahanan tubuh. Menurut Carpenito (2000) resiko terhadap infeksi adalah keadaan dimana seorang individu beresiko terserang oleh agen patogenik atau oportunis (virus, jamur, bakteri, protozoa dan parasit lain) dari sumber-sumber endogen atau eksogen.

4. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidak mampuan menelan makanan, nyeri area rahang. Menurut Carpenito (2000) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan suatu keadaan dimana individu yang tidak mengalami puasa atau yang beresiko mengalami penurunan berat badan atau yang berhubungan dengan masukan yang tidak adekuat

5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada area rahang dan luka operasi. Menurut Carpenito (2000) perubahan pola tidur adalah keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami suatu perubahan dalam kuantitas atau kualitas pola tidurnya yang menyebabkan rasa tidak nyaman atau mengganggu gaya hidup yang diinginkannya

6. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan adanya peradangan di area mulut. Menurut Carpenito (2000) Gangguan komunikasi verbal adalah keadaan dimana seorang individu mengalami, atau dapat mengalami penurunan kemampuan atau ketidakmampuan untuk berbicara tetapi dapat mengerti orang.

7. Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh. Menurut Carpenito (2000) gangguan gambaran diri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami atau beresiko untuk mengalami gangguan dalam cara pencerapan citra diri seseorang.


DAFTAR PUSTAKA
Harrison. Prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. Editor dalam bahasa Inggris : kurt J. Lessebacher. Et. Al : editor bahasa Indnesia Ahmad H. Asdie. Edisi 13. jakarta : EGC. 1999.

NANDA, 2005
NIC, 2005
NOC2005
Siregar, R,S. Atlas Berwarna Saripati Kulit. Editor Huriawati Hartanta. Edisi 2. Jakarta:EGC,2004.

Suzanne, C, Smeltzer, Brenda G Bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Bruner and Suddarth. Ali Bahasa Agung Waluyo. ( et,al) Editor bahasa Indonesia :Monica Ester. Edisi 8 jakarta : EGC,2001.